07
Feb
08

Ngaji …? Gue banget

“Afwan coy…telat nih. Tadi ngaji dulu. Wuihh… siapa nih yang bawa cemilan? Bagi ya…? Syukron berat nehh. Bismillah…nyam.”

Ardi mewakili salah satu style produk kampus. Selain semua hal terkait bidang ilmu yang ditekuninya, Islam adalah nuansa hidupnya. Topik diskusinya pergerakan Islam. Bacaannya konsep Islam. Ruang aktifitasnya kost-kampus-masjid. Komentar teman-teman sekampus tentang dia, ”Gue segan loh, sama dia…orangnya pendiam banget.” Satu hal yang tidak dipungkiri teman-teman sekampus Ardi, ”Tapi dia baik kok!, mungkin karena beda gaya aja dengan kita.” ujar mereka.

Begitulah gambaran aktivis dakwah kampus beberapa tahun yang lalu. Ketika itu dakwah kita masih kuncup. Suasana kolektif masyarakat masih sangat asing dengan Islam. Karena itulah sikap dan karakter, dihitung sebagai alat utama mengenalkan perbedaan yang ada.

Kampus ketika itu belum sevariatif sekarang. Ketika itu dengan mudah kita dapat memetakan gaya mahasiswa. Mereka berada dalam polarisasi yang mengkutub. Suatu gaya berbeda secara ekstrim dengan gaya lain. Itulah mengapa istilah eksklusif menjadi kental sebagai topik bahasan ekspansi dakwah.

Ekspansi Dakwah

Setelah upaya-upaya ta’rif terhadap dakwah ini dilakukan, terjadi pelebaran ruang simpatisan yang signifikan. Aktivis dakwah memanfaatkan momentum untuk memperkenalkan diri. Bahasa pergerakan yang sesuai dengan opini kampus, membuat simpatisan semakin bertambah. Dari segi pemikiran, beberapa pihak bahkan melakukan kajian-kajian yang semakin memperkenalkan karakter ikhwah. Maka jadilah hari ini, dakwah bergeliat dan menembus semua lapisan kehidupan.

Ekspansi dakwah menempatkan pada posisi spesifik dalam kelompok masyarakat kampus. Komentar pun tidak hanya seputar gaya pemikiran, melainkan meluas ke gaya penampilan. Jika sebelumnya orang seolah tidak peduli dengan penampilan ikhwah, kini orang-orang mulai memberi komentar, ”Maaf nih ya… tapi menurut gue, Lo terlalu tertutup. Ini lebih membatasi kan.”

Maka, sedikit banyak komentar, masukan dan saran dari ’luar’ berpengaruh terhadap strategi dakwah kampus. Ikhwan dan akhwat mulai ngeh dengan penampilannya. Jilbab mulai beragam corak dan modelnya. Bahkan ikhwah sendiri berkomentar, ”Ikhwan-akhwat sekarang semakin warna-warni ya…”

Adaptasi gaya dalam pergaulan yang terbuka

Melebarnya ruang interaksi pada lingkup dakwah yang lebih luas, memaksa kita untuk beradaptasi lebih proporsional di dalam kampus. Komentar sederhananya, ”Hari ini, siapa sih yang nggak kenal ikhwan dan akhwat”, seharusnya menyadarkan kita beban adaptasi yang lebih berat. Dalam konteks prilaku, adaptasi adalah proses menyerap karakter yang memungkinkan keberadaan kita diterima di lingkungan tersebut. Dengan atau menghilangkan karakter yang sudah ada. Dalam konteks dakwah, adaptasi adalah meminjam karakter populer yang ada, sebagai alat untuk menerapkan subtansi karakter tarbiyah kita.

Adaptasi dalam dakwah sama sekali tidak menghilangkan karakter khas kita yang sudah ada. Bahkan karakter pembinaan tersebut adalah misi yang harus diperjuangkan. Ketika Allah SWT menyempurnakan nikmatnya dalam ayat ”pamungkas”, Hari ini telah kusempurnakan untuk kalian Agama kalian, dan Kucukupkan nikmatKu dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian” dan meyakinkan penjagaan akan kemurnian nikmat tersebut, ”Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur’an dan Kami yang akan menjaganya’, maka sejak saat itulah, seluruh karakter yang ada dan dihasilkan dari pemahaman Islam yang benar, menjadi karakter utama dan misi yang harus dimenangkan.

Interaksi dan adaptasi adalah proses take and give antara kita dengan lingkungan. Bagi kita tentu saja tawaran terendahnya adalah bertahan dengan nilai pembinaan. Jika itu pun masih harus ditawar, maka yang ada di bawah bumi lebih baik daripada semua yang ada di permukaannya. Dengan konteks ini interaksi dan adaptasi kita adalah sebuah proses on mission. Dipersiapkan, dikelola dan dijalankan dengan cerdas. Itulah mengapa tarbiyah mendidik kta menjadi cerdas. Karena hasil terendah kita adalah menang. Jika kita kalah sedikit, itu namanya futur. Jika kalah banyak… na’udzubillah.

Jadi,…apakah sayap dakwah kampus kita pembinaan, ataukah sospol, atau yang lain, adaptasi perilaku berlaku sama di semua sudut kampus. Adaptasi yang on mission. Tidak futur, apalagi insilah.

Konsekuensi Istiqomah

Dalam proses on mission, tidak masalah ikhwan sedikit lebih trendi, atau akhwat tampil lebih ”berani”. Namun satu hal yang harus tetap ada adalah istiqomah dalam sikap dan perilaku. Ada kaidah yang jelas untuk ikhwan dalam bersikap dan akhwat dalam berpenampilan. Kaidah itu adalah satu misi, faktor pemberdayaan yang kita tawarkan dalam proses interaksi.

Kalau penapilan ikhwan sudah sedemikan trendi dan prilaku akhwat sudah sedemikian berani, sementara kaidah yang dihasilkan proses pembinaan kita tidak ada, lalu apa bedanya kita dengan mereka. Lalu untuk apa ada argumentasi adaptasi. Lalu mengapa perlu investasi umur untuk proses pembinaan. Komentar yang menarik kelemahan tersebut, ”Emangnya kita ikhwah apaan.”

Bertahan dan memenangkan nilai pembinaan adalah faktor utama yang harus ada. Interaksi dengan penampilan se-trendy apapun, tidak masalah selama tidak melanggar kaidah syar’i. Bahkan bahasa pun bisa kita adaptasikan. ”Afwan Coy…” Hanyalah salah satu alat interaksi-adaptasi kita. Selebihnya adalah nilai yang ingin kita sampaikan, ”Shalat dulu Jack.”

Kita tidak ingin ada jarak antara kita dengan teman-teman kampus sebagai objek dakwah, tapi kita lebih ingin lagi agar teman-teman mengenal nilai diri kita. Mengenal kecintaan kita kepada mereka. Kecintaan yang lahir dari perasaan ingin berbagi, agar risalah Allah ini pun dinikmati oleh mereka. Agar perhatian mereka, cita-cita hidup mereka, dengan gambaran hidup yang mereka miliki, sama seperti apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan kepada kita. Sama seperti apa yang kita dapatkan dalam proses pembinaan. Untuk itulah kita beradapatasi dan berinteraksi.

Hanya saja interaksi selalu bermata pedang dua. Jika kita melemah, kitalah yang akan teriris. Teraniaya dan tidak berdaya oleh silaunya prilaku dan penampilan. Bergaya adaptasi dan terjebal. Berperilaku dan futur. Untuk itu dibutuhkan spirit istiqomah yang membara. Dibakar oleh kualitas ibadah dan saat-saat masyuk kita dengan Ar-Rahman. Terjaga kualitasnya dan tidak berkurang kuantitasnya. Itulah konsekuensinya.

Dakwah dong biar gaya

Hendaknyalah kita sadar akan peta pertarungan yang sedang berlangsung. Inilah pertarungan abadi. Pertarungan yang melahirkan pertarungan. Sistem ideologi, melahirkan kebiasaan karakter. Bertarung pada sistemnya, bertarung pada karakternya. Maka hanya kualitas pemahaman yang lahir dari proses pembinaan yang matang yang akan menang. Ada pejuang yang kalah oleh kekuasaan. Ada juga yang terjungkal oleh kekayaan. Dan tidak sedikit yang kalah oleh fitnah rayuan. Selama ini pembinaan membuktikan diri, selalu menjadi benteng kesadaran untuk bertahan dan iltizam. Selalu menjadi sumber semangat yang tidak pernah melemah. Dan akan selalu seperti itu keadaannya.

Dari itu sebenarnya kekhawatiran kita bukan pada besar dan kuatnya lawan, melainkan kepada komitmen dan kesadaran kita dalam pembinaan diri dan tarbiyah. Sebab itulah sumber pemahaman yang melahirkan kekuatan iman dan pengetahuan, melahirkan keberanian dan semangat untuk berkorban. Dengannyalah kita menghadapi pertarungan zaman.

Asy Syahid Sayyid Quthb berkata, ”Bahwasanya dengan bertambahnya zaman pada setiap masa, dan bertambahnya manusia pada setiap waktu, tidak ada di sana melainkan satu sistem unggul dan hanya satu jalan sukses, yaitu sistem yang menggambarkan rambu-rambunya dalam surat Al ’Asr. Semua sistem selain itu akan hancur, lenyap dan musnah. Demi masa. Sesungguhnya manusia ada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling menasehati dalam kesabaran dan yang hak.” Sistem itulah yang dihasilkan dan diperjuangkan oleh pembinaan yang berkesinambungan.

Begitulah pembinaan, begitulah dakwah melahirkan karakter pemenang. Mampu bertahan dalam perubahan zaman. Dan tetap akan hadir sebagai pemenang. Bukan hanya pemenang dalam eksis pergaulan. Bukankah gaya di adopsi dari para pemenang. Makanya ”dakwah dong, biar gaya.” Demikian bertahap pada diri kita. Menumpuk dan menjadi karakter, maka kitalah pemenang, dihadapan Allah, Rasulullah dan orang-orang beriman. Setelah itu kita bisa berkata bangga, ”Ngaji… Gue Banget!”.

Sumber : Majalah Al Izzah Edisi 06/th 4/VII/2004


0 Responses to “Ngaji …? Gue banget”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: